Tanya:
Saya seorang ibu rumah tangga beranak tiga. Suami saya telah lama merantau dan sebentar lagi mau pulang kampung. Dia ke luar pulau untuk bekerja di perkebunan bersama tetangga yang telah lebih dahulu bekerja di sana.
Sewaktu dia berangkat, anak kami baru dua. Saat itu ternyata saya hamil tiga minggu. Saya baru periksa ke dokter sesudah suami berangkat. Menurut hasil pemeriksaan, kandungan saya sudah sebulan. Jadi awal kehamilan suami masih di rumah.
Setelah periksa, saya memberi tahu suami. Namun dia tak mau mengakui anak itu sebagai anaknya. Meski saya sudah memberitahukan hasil pemeriksaan dokter, dia tetap menolak.
Bagaimana saya bisa meyakinkan suami bahwa anak itu benar-benar darah-dagingnya? Jika dia tetap tak mau mengakui, apakah anak itu kelak tak bisa mendapatkan hak waris dari sang ayah seperti kakak-kakaknya? (Ny Tati)
Jawab:
Ibu Tati, sebagai isteri yang setia pada suami, tentu Ibu yang paling tahu anak ketiga adalah anak suami juga. Seharusnya suami tahu hal itu. Sebab selama menjadi suami Ibu, pasti dia tahu bagaimana kesetiaan Ibu.
Jika sekarang suami meragukan kesetiaan itu, Ibu perlu mencari tahu penyebab perubahan itu. Apakah ada kabar penyebab keraguan dia? Setelah suami pulang, Ibu dapat menanyakan kenapa dia menolak mengakui anak ketiga.
Untuk memperkuat bukti bahwa anak itu anak suami, Ibu dapat mengajaknya bertemu dokter yang memeriksa kandungan. Mohonlah bantuan dokter untuk menjelaskan usia kandungan Ibu dan peran suami. Jika dia masih tak percaya, dokter dapat melakukan tes DNA. Jadi dapat memperjelas siapa ayah anak ketiga.
Jika sudah memperoleh kepastian siapa ayah anak itu, Ibu dapat pula memperoleh ketentuan tentang hak anak, seperti hak waris. Jika anak itu terbukti anak suami, dia berhak mendapat warisan dari sang ayah seperti kakak-kakaknya.
Mintalah suami tak membedakan sikap dan kasih sayang kepada anak-anak. Sebaiknya Ibu juga tak memberitahukan sikap suami yang meragukan anak ketiga pada orang lain, apalagi di hadapan anak-anak. Jadi anak-anak tak berubah sikap pada adik mereka.
Jangan lupa, berdoa agar Allah membuka pintu hati suami sehingga dapat menerima anak ketiga. Berdoa pula agar Ibu sekeluarga memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akherat. (53)
(Suara Merdeka 28 April 2010)
Rabu, 28 April 2010
Rabu, 21 April 2010
Ortu Belum Shalat
Tanya:
Aku pelajar kelas III SMA. Sekarang aku sedang harap-harap cemas menunggu hasil ujian. Lulus atau tidak? Pertanyaan itulah yang ada dalam pikiranku setiap hari.
Seperti diajarkan guru agama, aku selalu berdoa. Aku mohon pada Allah agar lulus ujian. Ketika teman-teman bercerita orang tua (ortu) mereka juga berdoa bagi kelulusan sang anak dengan shalat malam, aku hanya terdiam. Dalam hati aku menangis karena orang tuaku belum shalat.
Aku ingin ortuku membantu dengan doa, seperti ortu teman-temanku. Aku mau bilang pada ortu soal itu, tetapi takut dimarahi. Karena, ayahku kerap marah jika ditanya mengapa belum shalat.
Suatu ketika Nenek (ibu Ayah) datang. Tahu Ayah dan Ibu tak shalat, Nenek agak marah. Ayah menjawab sekarang sibuk sehingga tak punya waktu untuk shalat.
Ayah berjanji pada Nenek, kelak setelah pensiun akan shalat lagi. Bagaimana caranya agar ortuku mau shalat dan mendoakan aku agar lulus ujian? (Ryan)
Jawab:
Ananda Ryan, keinginanmu agar ortu mau shalat itu terpuji. Karena, shalat lima waktu adalah kewajiban bagi orang Islam yang tak dapat ditinggalkan.
Sesibuk apa pun, orang tak boleh meninggalkan atau menunda shalat karena manusia tak tahu sampai kapan hidup.
Karena itu alasan Ayah bakal shalat lagi setelah pensiun, tak tepat. Orang yang meninggalkan shalat termasuk golongan yang celaka di akherat. Allah berfirman (Surah Al- Kautsar: 4 dan 5), “Celakalah orang-orang yang lalai dalam mengerjakan shalat.”
Setiap anak tentu menginginkan ortu bahagia di dunia dan akherat. Ortu pun tentu menginginkan Ryan lulus ujian. Jika Ryan tak ingin ortu termasuk orang yang celaka karena tidak shalat, sebaiknya segera mengingatkan Ayah dan Ibu agar tak lupa shalat. Jika takut berhadapan, bisa melalui surat, telepon, atau SMS.
Kemukakan keinginan Ryan agar ortu membantu berdoa agar lulus ujian. Agar doa dikabulkan, Ayah dan Ibu perlu menjalankan perintah Allah, termasuk shalat wajib, dan menjauhi larangan-Nya. Tentu Allah akan meridai.
Doa orang yang diridai, insya Allah terkabul. Jangan lupa mohon pertolongan Allah agar Ayah dan Ibu diberi petunjuk dan kekuatan sehingga dapat mengerjakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Semoga Ryan lulus ujian dan berhasil mengajak Ayah dan Ibu shalat. (53)
(Suara Merdeka 21 April 2010)
Aku pelajar kelas III SMA. Sekarang aku sedang harap-harap cemas menunggu hasil ujian. Lulus atau tidak? Pertanyaan itulah yang ada dalam pikiranku setiap hari.
Seperti diajarkan guru agama, aku selalu berdoa. Aku mohon pada Allah agar lulus ujian. Ketika teman-teman bercerita orang tua (ortu) mereka juga berdoa bagi kelulusan sang anak dengan shalat malam, aku hanya terdiam. Dalam hati aku menangis karena orang tuaku belum shalat.
Aku ingin ortuku membantu dengan doa, seperti ortu teman-temanku. Aku mau bilang pada ortu soal itu, tetapi takut dimarahi. Karena, ayahku kerap marah jika ditanya mengapa belum shalat.
Suatu ketika Nenek (ibu Ayah) datang. Tahu Ayah dan Ibu tak shalat, Nenek agak marah. Ayah menjawab sekarang sibuk sehingga tak punya waktu untuk shalat.
Ayah berjanji pada Nenek, kelak setelah pensiun akan shalat lagi. Bagaimana caranya agar ortuku mau shalat dan mendoakan aku agar lulus ujian? (Ryan)
Jawab:
Ananda Ryan, keinginanmu agar ortu mau shalat itu terpuji. Karena, shalat lima waktu adalah kewajiban bagi orang Islam yang tak dapat ditinggalkan.
Sesibuk apa pun, orang tak boleh meninggalkan atau menunda shalat karena manusia tak tahu sampai kapan hidup.
Karena itu alasan Ayah bakal shalat lagi setelah pensiun, tak tepat. Orang yang meninggalkan shalat termasuk golongan yang celaka di akherat. Allah berfirman (Surah Al- Kautsar: 4 dan 5), “Celakalah orang-orang yang lalai dalam mengerjakan shalat.”
Setiap anak tentu menginginkan ortu bahagia di dunia dan akherat. Ortu pun tentu menginginkan Ryan lulus ujian. Jika Ryan tak ingin ortu termasuk orang yang celaka karena tidak shalat, sebaiknya segera mengingatkan Ayah dan Ibu agar tak lupa shalat. Jika takut berhadapan, bisa melalui surat, telepon, atau SMS.
Kemukakan keinginan Ryan agar ortu membantu berdoa agar lulus ujian. Agar doa dikabulkan, Ayah dan Ibu perlu menjalankan perintah Allah, termasuk shalat wajib, dan menjauhi larangan-Nya. Tentu Allah akan meridai.
Doa orang yang diridai, insya Allah terkabul. Jangan lupa mohon pertolongan Allah agar Ayah dan Ibu diberi petunjuk dan kekuatan sehingga dapat mengerjakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Semoga Ryan lulus ujian dan berhasil mengajak Ayah dan Ibu shalat. (53)
(Suara Merdeka 21 April 2010)
Rabu, 14 April 2010
Mau Dimadu dengan Kemenakan
Tanya:
Saya karyawati di kantor swasta, punya dua anak balita. Suami saya berwiraswasta di bidang kebutuhan pokok. Untuk mengurus rumah tangga dan anak anak, saya dibantu seorang pembantu yang cekatan. Pekerjaan rumah pun terasa ringan dan anak-anak terawat dengan baik.
Namun sewaktu pembantu pulang ke kampung karena ayahnya sakit, saya harus bekerja keras sendirian untuk menyelesaikan tugas rumah tangga. Saya sangat gelisah karena terpaksa menitipkan anak-anak ke rumah H, kemenakan saya yang tinggal tak jauh dari tempat tinggal kami.
Dia sudah janda karena suaminya meninggal dunia empat tahun lalu. Dia sabar dan pandai mengasuh anak, sehingga anak-anak kami senang berada di rumahnya. Biasanya suami yang menjemput anak-anak karena lebih dahulu pulang ketimbang saya.
Saya tak mengira, ternyata suami saya mengaku jatuh cinta pada H. Dia ingin menikahi H. Waktu saya tanyakan hal itu, H cuma diam. Tak mau menjawab. Jika saya tak mengizinkan, apakah mereka bisa menikah? (Santi)
Jawab:
Ibu Santi, tugas istri yang bekerja dan punya anak-anak kecil memang tak ringan. Anak-anak belum bisa mandiri, sehingga untuk memenuhi semua kebutuhan mereka harus dilayani.
Apalagi Ibu juga harus menjaga kebersihan rumah, memasak, belanja, mencuci, dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang lain.
Itu terasa sekali ketika pembantu pulang ke kampung. Karena itu Ibu perlu membagi beban pekerjaan di rumah dengan suami ketika tak ada pembantu. Ibu sudah membantu suami mencari nafkah. Jadi suami pun perlu membantu mengatasi kerepotan Ibu.
Pembagian kerja di rumah tergantung pada kesepakatan antara Ibu dan suami. Jadi setiap pihak tak merasa terpaksa melakukan pekerjaan di rumah. Kerja sama dan saling bantu dapat mengukuhkan ikatan batin antara suami dan istri. Karena, bisa menjalani suka dan duka berumah tangga bersama-sama.
Soal rencana suami menikahi H, Ibu tak perlu risau. Karena, menurut ajaran agama, suami tak bisa menikahi kemenakan itu selama masih terikat tali pernikahan dengan Ibu. Agar suami dapat melupakan H, Ibu dapat meminta bantuan H menjauhi suami Ibu.
Selain itu, Ibu sebaiknya segera mencari pembantu agar tak perlu lagi menitipkan anak-anak pada H. Jadi tak ada alasan lagi bagi suami Ibu datang ke rumah H.
Selanjutnya, ajaklah suami bicara dari hati ke hati mengenai betapa perlu membesarkan anak-anak dalam keluarga yang utuh dan penuh kasih sayang. Jadi, kelak, mereka dapat tumbuh jadi anak yang cerdas dan saleh. Jangan lupa, selalu memohon pada Allah agar dijauhkan dari semua godaan yang dapat menghancurkan rumah tangga Ibu. (53)
(Suara Merdeka 14 April 2010)
Saya karyawati di kantor swasta, punya dua anak balita. Suami saya berwiraswasta di bidang kebutuhan pokok. Untuk mengurus rumah tangga dan anak anak, saya dibantu seorang pembantu yang cekatan. Pekerjaan rumah pun terasa ringan dan anak-anak terawat dengan baik.
Namun sewaktu pembantu pulang ke kampung karena ayahnya sakit, saya harus bekerja keras sendirian untuk menyelesaikan tugas rumah tangga. Saya sangat gelisah karena terpaksa menitipkan anak-anak ke rumah H, kemenakan saya yang tinggal tak jauh dari tempat tinggal kami.
Dia sudah janda karena suaminya meninggal dunia empat tahun lalu. Dia sabar dan pandai mengasuh anak, sehingga anak-anak kami senang berada di rumahnya. Biasanya suami yang menjemput anak-anak karena lebih dahulu pulang ketimbang saya.
Saya tak mengira, ternyata suami saya mengaku jatuh cinta pada H. Dia ingin menikahi H. Waktu saya tanyakan hal itu, H cuma diam. Tak mau menjawab. Jika saya tak mengizinkan, apakah mereka bisa menikah? (Santi)
Jawab:
Ibu Santi, tugas istri yang bekerja dan punya anak-anak kecil memang tak ringan. Anak-anak belum bisa mandiri, sehingga untuk memenuhi semua kebutuhan mereka harus dilayani.
Apalagi Ibu juga harus menjaga kebersihan rumah, memasak, belanja, mencuci, dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang lain.
Itu terasa sekali ketika pembantu pulang ke kampung. Karena itu Ibu perlu membagi beban pekerjaan di rumah dengan suami ketika tak ada pembantu. Ibu sudah membantu suami mencari nafkah. Jadi suami pun perlu membantu mengatasi kerepotan Ibu.
Pembagian kerja di rumah tergantung pada kesepakatan antara Ibu dan suami. Jadi setiap pihak tak merasa terpaksa melakukan pekerjaan di rumah. Kerja sama dan saling bantu dapat mengukuhkan ikatan batin antara suami dan istri. Karena, bisa menjalani suka dan duka berumah tangga bersama-sama.
Soal rencana suami menikahi H, Ibu tak perlu risau. Karena, menurut ajaran agama, suami tak bisa menikahi kemenakan itu selama masih terikat tali pernikahan dengan Ibu. Agar suami dapat melupakan H, Ibu dapat meminta bantuan H menjauhi suami Ibu.
Selain itu, Ibu sebaiknya segera mencari pembantu agar tak perlu lagi menitipkan anak-anak pada H. Jadi tak ada alasan lagi bagi suami Ibu datang ke rumah H.
Selanjutnya, ajaklah suami bicara dari hati ke hati mengenai betapa perlu membesarkan anak-anak dalam keluarga yang utuh dan penuh kasih sayang. Jadi, kelak, mereka dapat tumbuh jadi anak yang cerdas dan saleh. Jangan lupa, selalu memohon pada Allah agar dijauhkan dari semua godaan yang dapat menghancurkan rumah tangga Ibu. (53)
(Suara Merdeka 14 April 2010)
Rabu, 07 April 2010
Saya Ingin Tobat
Tanya:
Saya wanita berusia 23 tahun. Setelah tamat SMA, saya terjerumus ke lembah hitam. Orang pertama yang menjerumuskan saya ke perbuatan terkutuk itu adalah M, pacar saya.
Pria yang bekerja di sektor swasta itu tega menjual saya pada rekanan yang memberikan proyek besar. Setelah peristiwa itu, saya menjadi gadis panggilan. Bertahun-tahun saya menjalani pekerjaan itu tanpa menghiraukan akibat.
Sekarang saya terkena penyakit menular. Saya tak kunjung sembuh, meski sudah berobat. Saya tak bisa lagi bekerja dan lebih banyak di rumah. Sekarang saya menyesal atas dosa yang sudah saya kerjakan.
Saya sering menangis dan tak bisa tidur. Apalagi ketika ada orang meninggal. Sebab, saya membayangkan dosa sedemikian banyak yang telah saya lakukan dan harus saya pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
Saya ingin bertobat. Bagaimana caranya? Apakah tobat saya bisa diterima, mengingat begitu banyak dosa telah saya lakukan? (Este)
Jawab
Penyesalan atas kesalahan dan dosa merupakan awal perubahan ke arah yang baik. Banyak orang yang semula Bersalah atau berdosa kemudian menjadi lebih baik setelah menyadari kesalahannya.
Este, kini Anda menyadari pekerjaan yang selama Anda lakukan menyimpang dari jalan yang benar. Perbuatan zina dilarang agama dan mendapat ancaman hukuman berat, yakni didera seratus kali bagi yang belum bersuami/beristri dan didera sampai mati bagi yang sudah bersuami/beristri (Alquran Surah An-Nur: 2).
Namun Allah Yang Mahapengampun dan Mahapenyayang akan mengampuni dan memasukkan ke surga umat yang mau bertobat dan memperbaiki kelakuan (Alquran Surah At-Tahrim: 8).
Karena itu, jika Este ingin bertobat, segera lakukan dengan cara menyesali kesalahan dan meninggalkan perzinaan selama-lamanya. Mohonlah ampun pada Allah dengan mengucapkan istighfar dan berjanji tak akan mengulangi dosa itu lagi. Sesudah bertobat, isilah sisa hidup ini dengan mendekatkan diri pada Allah dengan melaksanakan ibadah dan memperbanyak amal saleh.
Perzinaan mendatangkan banyak penyakit jasmani dan rohani sebagaimana Este alami. Banyak pezina mengabaikan bahaya penyakit menular seksual yang dapat menimbulkan penderitaan bagi diri sendiri dan orang lain yang tak berdosa. Sebab, suami atau istri dan anak-anak pezina bisa tertular penyakit.
Selain itu, perzinaan merusak keutuhan rumah tangga dan menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Karena itu, keputusan Este untuk meninggalkan dunia hitam sudah tepat. Begitu pula kesadaran bahwa hidup ini singkat dan waktu kematian tak dapat diketahui kapan datang.
Itu menjadi pendorong yang kuat bagi Este untuk segera mengakhiri perbuatan dosa. Jangan lupa mohon petunjuk dan bimbingan Allah agar Este dapat mengisi hidup ini dengan perbuatan yang diridai-Nya. (53)
(Suara Merdeka 7 April 2010)
Saya wanita berusia 23 tahun. Setelah tamat SMA, saya terjerumus ke lembah hitam. Orang pertama yang menjerumuskan saya ke perbuatan terkutuk itu adalah M, pacar saya.
Pria yang bekerja di sektor swasta itu tega menjual saya pada rekanan yang memberikan proyek besar. Setelah peristiwa itu, saya menjadi gadis panggilan. Bertahun-tahun saya menjalani pekerjaan itu tanpa menghiraukan akibat.
Sekarang saya terkena penyakit menular. Saya tak kunjung sembuh, meski sudah berobat. Saya tak bisa lagi bekerja dan lebih banyak di rumah. Sekarang saya menyesal atas dosa yang sudah saya kerjakan.
Saya sering menangis dan tak bisa tidur. Apalagi ketika ada orang meninggal. Sebab, saya membayangkan dosa sedemikian banyak yang telah saya lakukan dan harus saya pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
Saya ingin bertobat. Bagaimana caranya? Apakah tobat saya bisa diterima, mengingat begitu banyak dosa telah saya lakukan? (Este)
Jawab
Penyesalan atas kesalahan dan dosa merupakan awal perubahan ke arah yang baik. Banyak orang yang semula Bersalah atau berdosa kemudian menjadi lebih baik setelah menyadari kesalahannya.
Este, kini Anda menyadari pekerjaan yang selama Anda lakukan menyimpang dari jalan yang benar. Perbuatan zina dilarang agama dan mendapat ancaman hukuman berat, yakni didera seratus kali bagi yang belum bersuami/beristri dan didera sampai mati bagi yang sudah bersuami/beristri (Alquran Surah An-Nur: 2).
Namun Allah Yang Mahapengampun dan Mahapenyayang akan mengampuni dan memasukkan ke surga umat yang mau bertobat dan memperbaiki kelakuan (Alquran Surah At-Tahrim: 8).
Karena itu, jika Este ingin bertobat, segera lakukan dengan cara menyesali kesalahan dan meninggalkan perzinaan selama-lamanya. Mohonlah ampun pada Allah dengan mengucapkan istighfar dan berjanji tak akan mengulangi dosa itu lagi. Sesudah bertobat, isilah sisa hidup ini dengan mendekatkan diri pada Allah dengan melaksanakan ibadah dan memperbanyak amal saleh.
Perzinaan mendatangkan banyak penyakit jasmani dan rohani sebagaimana Este alami. Banyak pezina mengabaikan bahaya penyakit menular seksual yang dapat menimbulkan penderitaan bagi diri sendiri dan orang lain yang tak berdosa. Sebab, suami atau istri dan anak-anak pezina bisa tertular penyakit.
Selain itu, perzinaan merusak keutuhan rumah tangga dan menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Karena itu, keputusan Este untuk meninggalkan dunia hitam sudah tepat. Begitu pula kesadaran bahwa hidup ini singkat dan waktu kematian tak dapat diketahui kapan datang.
Itu menjadi pendorong yang kuat bagi Este untuk segera mengakhiri perbuatan dosa. Jangan lupa mohon petunjuk dan bimbingan Allah agar Este dapat mengisi hidup ini dengan perbuatan yang diridai-Nya. (53)
(Suara Merdeka 7 April 2010)
Rabu, 31 Maret 2010
Orang Tua Mau Cerai
Tanya:
Saya seorang pelajar SMA, punya seorang adik masih kelas II SD. Ibu saya bekerja di kantor swasta, dan ayah menganggur, karena kena PHK. Sejak ayah tidak belerja, ia sering marah. Saya dan adik menjadi sasaran kemarahannya.
Sudah lama keadaan seperti itu berlangsung. Saya sering pulang ke rumah nenek kalau ayah marah-marah. Ayah juga sering bertengkar dengan ibu.
Karena itu, saya jarang pulang ke rumah dan lebih senang di rumah nenek.
Waktu kemarin saya pulang ke rumah, ayah mengatakan kalau mau menceraikan ibu dan saya disuruh ikut ayah.
Saya hanya diam, tetapi dalam hati tidak mau ikut ayah, karena ia suka marah. Sekarang ini saya bingung, mau ikut ibu atau nenek. Kalau ikut ibu, takut dimarahi ayah, tetapi kalau ikut nenek, jarak ke sekolah jauh dan harus naik bus dua kali. Bagaimana sebaiknya bu? (Reza)
Jawab:
Ananda Reza, setiap anak tentu ingin tinggal bersama orang tuanya dan melihat ayah dan ibu selalu rukun. Ketenangan dalam keluarga sangat diinginkan oleh anak-anak, karena dengan ketenteraman dalam keluarga, anak akan dapat belajar dengan tenang.
Pada umumnya suami dan istri juga ingin rumah tangganya tenang, anak-anak tumbuh cerdas dan shaleh. Mungkin ayah Reza sedang banyak pikiran, karena belum dapat pekerjaan, sehingga membuatnya sering marah. Terkadang orang yang baru banyak pikiran perasaannya menjadi sensitif dan merasa semua orang tidak ada yang mau membantunya.
Karena itu, rencana perceraian itu mungkin hanya merupakan pelampiasan kekesalan sesaat.
Kalau ayah kemarin pernah bicara tentang perceraian, tidak perlu dirisaukan.
Ada kalanya kalau masih jengkel atau marah, suami atau istri pikirannya akan sampai pada perceraian. Ibu Reza tampaknya sabar menghadapi ayah yang sering marah, karena belum dapat pekerjaan.
Maka, ibu tidak menanggapi rencana ayah yang akan menceraikannya. Jadi, untuk sementara Reza masih bisa di tempat nenek, tetapi juga perlu pulang ke rumah agar dapat ketemu ibu dan membicarakan keinginan Reza agar rumah dapat kembali tenang.
Kalau Reza tidak bisa bicara langsung dengan ibu, dapat melalui surat. Ibu tentu akan senang kalau Reza mau bicara terus terang kepada ibu tentang perasaan Reza selama ini. Jangan lupa mohon pertolongan Allah agar ayah dan ibu bisa rukun dan ayah segera dapat pekerjaan. (37)
(Suara Merdeka 31 Maret 2010)
Saya seorang pelajar SMA, punya seorang adik masih kelas II SD. Ibu saya bekerja di kantor swasta, dan ayah menganggur, karena kena PHK. Sejak ayah tidak belerja, ia sering marah. Saya dan adik menjadi sasaran kemarahannya.
Sudah lama keadaan seperti itu berlangsung. Saya sering pulang ke rumah nenek kalau ayah marah-marah. Ayah juga sering bertengkar dengan ibu.
Karena itu, saya jarang pulang ke rumah dan lebih senang di rumah nenek.
Waktu kemarin saya pulang ke rumah, ayah mengatakan kalau mau menceraikan ibu dan saya disuruh ikut ayah.
Saya hanya diam, tetapi dalam hati tidak mau ikut ayah, karena ia suka marah. Sekarang ini saya bingung, mau ikut ibu atau nenek. Kalau ikut ibu, takut dimarahi ayah, tetapi kalau ikut nenek, jarak ke sekolah jauh dan harus naik bus dua kali. Bagaimana sebaiknya bu? (Reza)
Jawab:
Ananda Reza, setiap anak tentu ingin tinggal bersama orang tuanya dan melihat ayah dan ibu selalu rukun. Ketenangan dalam keluarga sangat diinginkan oleh anak-anak, karena dengan ketenteraman dalam keluarga, anak akan dapat belajar dengan tenang.
Pada umumnya suami dan istri juga ingin rumah tangganya tenang, anak-anak tumbuh cerdas dan shaleh. Mungkin ayah Reza sedang banyak pikiran, karena belum dapat pekerjaan, sehingga membuatnya sering marah. Terkadang orang yang baru banyak pikiran perasaannya menjadi sensitif dan merasa semua orang tidak ada yang mau membantunya.
Karena itu, rencana perceraian itu mungkin hanya merupakan pelampiasan kekesalan sesaat.
Kalau ayah kemarin pernah bicara tentang perceraian, tidak perlu dirisaukan.
Ada kalanya kalau masih jengkel atau marah, suami atau istri pikirannya akan sampai pada perceraian. Ibu Reza tampaknya sabar menghadapi ayah yang sering marah, karena belum dapat pekerjaan.
Maka, ibu tidak menanggapi rencana ayah yang akan menceraikannya. Jadi, untuk sementara Reza masih bisa di tempat nenek, tetapi juga perlu pulang ke rumah agar dapat ketemu ibu dan membicarakan keinginan Reza agar rumah dapat kembali tenang.
Kalau Reza tidak bisa bicara langsung dengan ibu, dapat melalui surat. Ibu tentu akan senang kalau Reza mau bicara terus terang kepada ibu tentang perasaan Reza selama ini. Jangan lupa mohon pertolongan Allah agar ayah dan ibu bisa rukun dan ayah segera dapat pekerjaan. (37)
(Suara Merdeka 31 Maret 2010)
Rabu, 24 Maret 2010
Mau Nikah, Belum Bekerja
Tanya:
Saya seorang wanita berusia 25 tahun, belum bekerja, dan sudah tidak sekolah. Saya ikut kakak dan membantu mengasuh anaknya yang baru berumur dua tahun. Kakak dan suaminya semua bekerja di kantor swasta. Beberapa bulan yang lalu saudara sepupu dari suami kakakku, bernama Z, usianya 29 tahun, datang ke rumah kakak. Ternyata ia sedang mencari pekerjaan. Tiap hari ia memasukkan lamaran kerja, tetapi sampai sekarang belum ada satu pun yang memanggilnya untuk bekerja.
Ia sering curhat tentang susahnya mencari pekerjaan. Bermula dari sering bicara dan curhat, saya merasakan kedekatan dengannya. Ternyata ia merasakan hal yang sama. Ketika saya pergi keluar kota selama tiga hari untuk mengunjungi saudara, Z mengaku merasa kehilangan.
Hampir setiap hari ia telepon dan menanyakan kapan saya pulang. Setelah saya kembali ke rumah, ia menyatakan cinta kepada saya dan ingin menikahi saya. Meskipun saya juga mencintainya, bagaimana nantinya rumah tangga kami kalau Z maupun saya belum bekerja? (Tri)
Jawab:
Mbak Tri yang sedang bahagia, kesepakatan dengan Z untuk melanjutkan hubungan ke pernikahan merupakan keputusan yang tepat, mengingat usia Z maupun Tri sudah cukup matang untuk berumah tangga. Melalui pernikahan, banyak kebaikan yang akan diperoleh seperti lebih terjaga dari perbuatan tercela, mendapat teman dalam suka dan duka, serta hidup menjadi lebih tenang.
Memasuki kehidupan berumah tangga memang perlu persiapan seperti mental yang kuat untuk mengatasi problem rumah tangga, termasuk dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari. Melihat usaha Z selama ini dalam mencari pekerjaan, tampak bahwa ia termasuk ulet dalam berusaha. Hal ini memungkinkan Z untuk berwiraswasta. Sambil mencari pekerjaan seperti yang diinginkan, Tri dapat mendorong Z untuk membuka usaha sesuai kemampuan dan minatnya, karena rezeki bisa atang dari mana saja asal mau berusaha.
Kenyataan di masyarakat menunjukkan bahwa orang yang sudah menikah, pada umumnya lebih terdorong untuk giat bekerja. Allah akan memberikan kecukupan rezeki bagi siapa pun yang mau berusaha. Jadi, Tri tidak perlu takut untuk menikah hanya karena Z belum dapat pekerjaan. Percayalah bahwa Z akan lebih termotivasi dalam mencari nafkah setelah menikah.
Jangan lupa selalu mohon pertolongan Allah agar dimudahkan jalannya dalam memperoleh rezeki dan mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tangga. (37)
(Suara Merdeka 24 Maret 2010)
Saya seorang wanita berusia 25 tahun, belum bekerja, dan sudah tidak sekolah. Saya ikut kakak dan membantu mengasuh anaknya yang baru berumur dua tahun. Kakak dan suaminya semua bekerja di kantor swasta. Beberapa bulan yang lalu saudara sepupu dari suami kakakku, bernama Z, usianya 29 tahun, datang ke rumah kakak. Ternyata ia sedang mencari pekerjaan. Tiap hari ia memasukkan lamaran kerja, tetapi sampai sekarang belum ada satu pun yang memanggilnya untuk bekerja.
Ia sering curhat tentang susahnya mencari pekerjaan. Bermula dari sering bicara dan curhat, saya merasakan kedekatan dengannya. Ternyata ia merasakan hal yang sama. Ketika saya pergi keluar kota selama tiga hari untuk mengunjungi saudara, Z mengaku merasa kehilangan.
Hampir setiap hari ia telepon dan menanyakan kapan saya pulang. Setelah saya kembali ke rumah, ia menyatakan cinta kepada saya dan ingin menikahi saya. Meskipun saya juga mencintainya, bagaimana nantinya rumah tangga kami kalau Z maupun saya belum bekerja? (Tri)
Jawab:
Mbak Tri yang sedang bahagia, kesepakatan dengan Z untuk melanjutkan hubungan ke pernikahan merupakan keputusan yang tepat, mengingat usia Z maupun Tri sudah cukup matang untuk berumah tangga. Melalui pernikahan, banyak kebaikan yang akan diperoleh seperti lebih terjaga dari perbuatan tercela, mendapat teman dalam suka dan duka, serta hidup menjadi lebih tenang.
Memasuki kehidupan berumah tangga memang perlu persiapan seperti mental yang kuat untuk mengatasi problem rumah tangga, termasuk dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari. Melihat usaha Z selama ini dalam mencari pekerjaan, tampak bahwa ia termasuk ulet dalam berusaha. Hal ini memungkinkan Z untuk berwiraswasta. Sambil mencari pekerjaan seperti yang diinginkan, Tri dapat mendorong Z untuk membuka usaha sesuai kemampuan dan minatnya, karena rezeki bisa atang dari mana saja asal mau berusaha.
Kenyataan di masyarakat menunjukkan bahwa orang yang sudah menikah, pada umumnya lebih terdorong untuk giat bekerja. Allah akan memberikan kecukupan rezeki bagi siapa pun yang mau berusaha. Jadi, Tri tidak perlu takut untuk menikah hanya karena Z belum dapat pekerjaan. Percayalah bahwa Z akan lebih termotivasi dalam mencari nafkah setelah menikah.
Jangan lupa selalu mohon pertolongan Allah agar dimudahkan jalannya dalam memperoleh rezeki dan mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tangga. (37)
(Suara Merdeka 24 Maret 2010)
Rabu, 17 Maret 2010
Tak Peduli Anak
Tanya: Saya seorang ibu rumah tangga, punya anak berusia tiga tahun. Karena suami belum punya pekerjaan tetap, maka kami masih ikut ibu mertua. Sudah setahun ini ibu mertua sakit yang tak kunjung sembuh. Meskipun ibu punya anak selain suami saya, mereka jarang menengok. Bagi saya dan suami, merawat ibu mertua adalah kewajiban anak kepada orang tua yang harus kami lakukan sebagai bakti kami kepadanya.
Di tengah sakitnya ibu, tiba-tiba anak saya kena DB dan harus opname di rumah sakit. Karena masih kecil, saya tidak tega meninggalkannya, meski hanya sebentar untuk melihat ibu di rumah. Yang membuat saya kecewa adalah sikap suami yang jarang menengok anak kami yang baru sakit. Ia mengaku capai setelah seharian cari pekerjaan, kemudian melayani kebutuhan ibu.
Sesungguhnya saya bisa memahami kondisi suami, tetapi anak kami juga sering menanyakan ayahnya, kenapa tidak menjenguknya. Ketika hal itu saya sampaikan pada suami, jawabannya sama bahwa ia juga capai. Sikap suami yang seperti itu, membuat saya sering merasa hidup sendirian, karena tidak ada lagi yang mau meringankan beban saya. Terkadang timbul pikiran untuk minta cerai saja, karena punya suami, tetapi tidak merasakan adanya perlindungan maupun perhatian.
Yang masih memberatkan untuk bercerai adalah anak saya yang sangat dekat dengan ayahnya. Bagaimana nantinya kalau kami pisah dan anak saya tidak mau jauh dari ayahnya.(Tria)
Jawab: Ibu Tria, berbahagialah ibu dan suami bisa merawat ibu mertua di masa tuanya. Ibu dan suami dapat melayani dan mendampinginya di kala sakitnya. Itu merupakan kebahagiaan yang perlu disyukuri, karena ibu mertua mau menerima ibu bersama suami tinggal bersamanya. Kiranya bu Tria dan suami termasuk orang yang sabar mendampingi orang tua.
Karena ibu dan suami sama-sama belum bekerja, maka perlu dicari waktu yang longgar untuk bicara dari hati ke hati tentang kepedulian suami terhadap anak. Dalam kondisi suami belum dapat pekerjaan dan harus merawat ibu, juga menjadi beban pikiran, sehingga ia tidak sempat meluangkan waktu untuk melihat anaknya yang sakit.
Suami merasa sudah berbagi tugas dengan bu Tria, tetapi hal itu tidak pernah dibicarakan dengan bu Tria, sehingga terjadi saling menduga. Agar suami mengerti kesulitan ibu selama mendampingi anak di rumah sakit, sebaiknya ibu kemukakan saja kepada suami, sehingga ia dapat mengerti apa yang diharapkan ibu dari suami untuk meringankan beban pikiran dan perasaan yang selama ini tersimpan dalam pikiran bu Tria.
Demikian pula sebaliknya. Mungkin suami juga merasakan beban berat selama ini, karena belum dapat pekerjaan, ditambah ibu dan anaknya sakit. Kalau suami maupun ibu bisa membicarakan kesulitan masing-masing, akan tercipta saling memahami dan saling membantu untuk mengatasi kesulitan, sehingga ibu tidak perlu bercerai dari suami. Sebab, perceraian justru akan menambah masalah dan berakibat buruk terhadap perkembangan anak
Ibu juga dapat membantu suami untuk menciptakan lapangan kerja, misalnya dengan membuka toko kelontong, rumah makan, bengkel, atau usaha lain yang sesuai dengan kemampuan dan minat suami. Jangan lupa mohon pertolongan Allah agar diberikan kemudahan dalam memperoleh rezeki dan kebahagiaan dalam rumah tangga. (37)
(Suara Merdeka 17 Maret 2010)
Di tengah sakitnya ibu, tiba-tiba anak saya kena DB dan harus opname di rumah sakit. Karena masih kecil, saya tidak tega meninggalkannya, meski hanya sebentar untuk melihat ibu di rumah. Yang membuat saya kecewa adalah sikap suami yang jarang menengok anak kami yang baru sakit. Ia mengaku capai setelah seharian cari pekerjaan, kemudian melayani kebutuhan ibu.
Sesungguhnya saya bisa memahami kondisi suami, tetapi anak kami juga sering menanyakan ayahnya, kenapa tidak menjenguknya. Ketika hal itu saya sampaikan pada suami, jawabannya sama bahwa ia juga capai. Sikap suami yang seperti itu, membuat saya sering merasa hidup sendirian, karena tidak ada lagi yang mau meringankan beban saya. Terkadang timbul pikiran untuk minta cerai saja, karena punya suami, tetapi tidak merasakan adanya perlindungan maupun perhatian.
Yang masih memberatkan untuk bercerai adalah anak saya yang sangat dekat dengan ayahnya. Bagaimana nantinya kalau kami pisah dan anak saya tidak mau jauh dari ayahnya.(Tria)
Jawab: Ibu Tria, berbahagialah ibu dan suami bisa merawat ibu mertua di masa tuanya. Ibu dan suami dapat melayani dan mendampinginya di kala sakitnya. Itu merupakan kebahagiaan yang perlu disyukuri, karena ibu mertua mau menerima ibu bersama suami tinggal bersamanya. Kiranya bu Tria dan suami termasuk orang yang sabar mendampingi orang tua.
Karena ibu dan suami sama-sama belum bekerja, maka perlu dicari waktu yang longgar untuk bicara dari hati ke hati tentang kepedulian suami terhadap anak. Dalam kondisi suami belum dapat pekerjaan dan harus merawat ibu, juga menjadi beban pikiran, sehingga ia tidak sempat meluangkan waktu untuk melihat anaknya yang sakit.
Suami merasa sudah berbagi tugas dengan bu Tria, tetapi hal itu tidak pernah dibicarakan dengan bu Tria, sehingga terjadi saling menduga. Agar suami mengerti kesulitan ibu selama mendampingi anak di rumah sakit, sebaiknya ibu kemukakan saja kepada suami, sehingga ia dapat mengerti apa yang diharapkan ibu dari suami untuk meringankan beban pikiran dan perasaan yang selama ini tersimpan dalam pikiran bu Tria.
Demikian pula sebaliknya. Mungkin suami juga merasakan beban berat selama ini, karena belum dapat pekerjaan, ditambah ibu dan anaknya sakit. Kalau suami maupun ibu bisa membicarakan kesulitan masing-masing, akan tercipta saling memahami dan saling membantu untuk mengatasi kesulitan, sehingga ibu tidak perlu bercerai dari suami. Sebab, perceraian justru akan menambah masalah dan berakibat buruk terhadap perkembangan anak
Ibu juga dapat membantu suami untuk menciptakan lapangan kerja, misalnya dengan membuka toko kelontong, rumah makan, bengkel, atau usaha lain yang sesuai dengan kemampuan dan minat suami. Jangan lupa mohon pertolongan Allah agar diberikan kemudahan dalam memperoleh rezeki dan kebahagiaan dalam rumah tangga. (37)
(Suara Merdeka 17 Maret 2010)
Langganan:
Postingan (Atom)